PERSEBAYA SURABAYA

PENCAPAIAN PER INDIKATOR

Lingkungan

Iklim dan Emisi Gas Rumah Kaca
Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Air
Keanekaragaman Hayati

Hak Asasi Manusia

Anti Diskriminasi dan Penghormatan HAM
Perlindungan Anak
Kesehatan dan Kesejahteraan
Keselamatan dan Keterlibatan Suporter

Tata Kelola

Transparansi dan Akuntabilitas
Anti Korupsi dan Fair Play
Kebijakan Pengadaan berkelanjutan
Kepatuhan Regulasi


Highlight


Profil

Surabaya, Medio Juni 1927. Di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial Hindia Belanda, gairah perlawanan arek-arek Suroboyo tidak hanya membara di ruang-ruang rapat pergerakan, tetapi juga meletup di lapangan hijau. Paijo dan M. Pamoedji mendirikan sebuah klub bernama Soerabhajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pendirian klub ini adalah sebuah pernyataan sikap politik kaum bumiputera yang emoh tunduk pada hegemoni klub-klub milik Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, nama ini bersalin rupa menjadi Persebaya Surabaya, sebuah tim yang kelak menjelma menjadi salah satu kiblat terbesar sepak bola nasional dengan julukan ikonik Green Force alias Bajol Ijo.


Sejak dekade awal berdirinya kompetisi di tanah air, Persebaya sudah menasbihkan diri sebagai poros kekuatan yang sangat disegani. Pada era Perserikatan, tim kebanggaan warga Surabaya ini berkali-kali merajai kompetisi dengan keluar sebagai juara pada tahun 1951, 1952, 1978, dan 1988. Karakter permainannya yang khas—ngeyel, ngotot, dan cepat dari kaki ke kaki—menjadi teror mengerikan bagi lawan-lawannya. Memasuki era profesional, keganasan Bajol Ijo tidak lantas surut. Mereka sukses mengawinkan gelar juara Liga Indonesia pada musim 1996/1997 dan musim 2004 lewat drama kompetisi yang selalu menguras emosi publik bola nasional. Sejarah panjang ini menempatkan Persebaya di jajaran elite klub tersukses yang memiliki tradisi juara paling kental di Indonesia.


Menghadapi modernisasi industri sepak bola abad ke-21, Persebaya melakukan lompatan besar agar tidak tergilas zaman dan terlepas dari ketergantungan dana pemerintah. Klub ini kini dikelola secara profesional di bawah payung entitas hukum resmi bernama PT Persebaya Indonesia. Di balik layar, kendali kepemilikan dan manajemen dipegang oleh Azrul Ananda melalui korporasi media dan olahraga yang kuat. Di bawah manajemen yang rapi ini, Persebaya bertransformasi menjadi klub yang sangat sehat secara finansial, mandiri, dan memiliki nilai jual komersial yang tinggi. Manajemen tidak hanya fokus pada prestasi tim utama, melainkan juga berinvestasi besar pada kompetisi internal legendaris Surabaya demi menjaga rantai pasokan talenta muda asli daerah agar tidak pernah putus.


Sentuhan manajemen yang visioner tersebut menjadi panggung yang sempurna bagi lahirnya para seniman lapangan hijau dari masa ke masa. Jika melongok lembar sejarah masa lalu, Persebaya adalah rumah bagi nama-nama besar seperti Rusdy Bahalwan, sang maestro yang sukses mempersembahkan gelar juara baik sebagai pemain maupun pelatih. Publik bola nasional juga tidak akan lupa pada ketajaman Eri Irianto, gelandang legendaris pemilik tendangan geledek yang namanya kini diabadikan sebagai nama wisma klub. Di era transisi modern, muncul sosok Bejo Sugiantoro yang menjadi dirigen lini belakang yang tangguh. Sementara di era kekinian, Persebaya terus melahirkan bintang-bintang muda berbakat yang langganan mengisi skuad Tim Nasional Indonesia, berpadu dengan legiun asing berkualitas tinggi yang selalu tampil spartan demi lambang hiu dan buaya di dada.
Namun, ruh utama yang membuat nafas Persebaya tetap menderu dan ditakuti selama hampir satu abad ini adalah Bonek. Singkatan dari Bondo Nekat ini telah bergeser dari sekadar julukan menjadi sebuah identitas sosiologis yang sangat kuat bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Dukungan luar biasa ini lahir dari kultur kultural yang diturunkan secara organik dari generasi ke generasi. Di tanah Surabaya, mencintai Persebaya adalah sebuah harga mati yang diwariskan lewat garis darah. Cerita tentang heroisme Bajol Ijo dialirkan dari kakek ke ayah, lalu meresap ke dalam sanubari anak dan cucu sejak mereka masih belia. Anak-anak di Surabaya tumbuh besar dengan lagu-lagu penyemangat klub, bangga mengenakan atribut serba hijau, dan menganggap pergi ke stadion sebagai ritual suci keluarga. Karakter arek Suroboyo yang blak-blakan, setia kawan, dan pantang menyerah tercermin utuh dalam cara mereka mendukung tim kesayangan.


Di dalam stadion, manifestasi dari kultur lintas generasi ini melahirkan magis yang luar biasa merinding. Tribun Gelora Bung Tomo selalu disulap menjadi lautan hijau yang bergemuruh sepanjang sembilan puluh menit. Bonek, bersama faksi-faksi kreatifnya seperti Green Nord, Tribun Kidul, hingga Gate 21, terkenal dengan aksi koreografi kertas raksasa, kibaran puluhan bendera raksasa, serta lantunan puji-pujian yang dinyanyikan bersama-sama tanpa henti. Dari masa-masa sulit perjuangan melawan dualisme hingga kejayaan di kasta tertinggi, kesetiaan mereka tidak pernah luntur sekecil apa pun. Dengan sejarah perlawanan yang mengakar kuat, deretan trofi emas di lemari klub, manajemen profesional yang visioner, serta basis supporter lintas generasi yang militan, Persebaya Surabaya bukan sekadar klub sepak bola, mereka adalah simbol harga diri, kebanggaan, dan jatidiri abadi arek-arek Suroboyo.