THEME

theme

APA SAJA TEMA DAN INDIKATOR SSL?

Cek di bawah ini

Iklim dan Emisi Gas Rumah Kaca

Pengukuran total jejak karbon operasional klub dan fans (termasuk perjalanan klub dan fans).

Target pengurangan emisi (misalnya: reduksi 50% pada tahun 2030).

Scope 1 & 2 (Direct & Energy): Menilai seberapa besar klub mampu menekan penggunaan listrik dan bahan bakar pada fasilitas yang mereka kontrol secara langsung (mess, kantor, dan pusat pelatihan).

Scope 3 (Mobility & Logistics): Indikator paling krusial. Mengukur upaya klub dalam mengatur pergerakan ribuan suporter dan perjalanan jauh antar-pulau bagi skuad pemain agar menghasilkan jejak karbon seminimal mungkin.

Carbon Sequestration (Penyerapan Karbon): Menilai proyek aktif klub dalam “membayar hutang karbon” melalui restorasi alam, seperti penanaman mangrove atau hutan kota.

Keanekaragaman Hayati

Memastikan pembangunan pusat pelatihan (training center) tidak merusak ekosistem lokal dan mengintegrasikan ruang hijau.

Habitat Restoration: Upaya aktif klub dalam memperbaiki ekosistem yang rusak di wilayah mereka (seperti penanaman mangrove atau penghijauan hutan).

Species Advocacy: Penggunaan kekuatan merek (brand power) klub untuk mengampanyekan perlindungan satwa endemik yang terancam punah.

Sustainable Site Management: Sejauh mana fasilitas fisik klub (stadion/kantor/mess) dirancang untuk tidak mengganggu jalur migrasi satwa atau merusak keragaman hayati lokal.

Community Bio-Engagement: Melibatkan suporter dalam kegiatan lapangan yang berdampak langsung pada kelestarian alam.

Ekonomi Sirkular dan Managemen Sampah

Kebijakan Zero Waste to Landfill di stadion atau pusat pelatihan.

Larangan penggunaan plastik sekali pakai dalam seluruh acara resmi federasi.

Waste Diversion Rate: Persentase sampah yang berhasil dialihkan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui proses daur ulang atau pengomposan.

Upcycling Innovation: Kemampuan klub mengubah limbah operasional (seperti spanduk bekas, botol, atau jersey lama) menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi.

Extended Producer Responsibility (EPR): Sejauh mana klub bertanggung jawab atas dampak lingkungan dari produk merchandise yang mereka jual kepada suporter.

Operational Minimization: Upaya teknis untuk menghilangkan sumber sampah sejak awal (misalnya: sistem tiket digital dan dispenser air minum publik).

Keberlanjutan Air

Implementasi sistem resirkulasi air untuk pemeliharaan lapangan rumput.

Sourcing & Harvesting: Kemampuan klub mencari sumber air alternatif (seperti air hujan) sehingga tidak membebani pasokan air bersih penduduk lokal atau air tanah dalam.

Irrigation Efficiency: Penggunaan teknologi sensor dan metode irigasi yang presisi untuk menjaga kualitas rumput stadion tanpa membuang-buang air (water runoff).

Wastewater Treatment: Sejauh mana fasilitas latihan klub mampu mengolah air bekas pakai (dari kamar mandi/laundry) agar layak digunakan kembali untuk kebutuhan sekunder.

Community Impact: Upaya klub dalam menjaga kelestarian sumber air di wilayah operasionalnya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Transparansi dan Akuntabilitas

Publikasi laporan tahunan yang mencakup laporan keuangan dan laporan keberlanjutan (Sustainability Report).

Financial Transparency: Ketersediaan laporan keuangan yang diaudit oleh firma eksternal dan dapat diakses oleh pemangku kepentingan terkait.

Club Licensing Compliance: Keberhasilan memenuhi 5 aspek penilaian Lisensi Klub (Legal, Finansial, Personel & Administrasi, Infrastruktur, dan Olahraga) tanpa catatan merah.

Owner & Management Integrity: Kejelasan siapa pemilik klub (Ultimate Beneficial Owner) guna mencegah konflik kepentingan dan praktik pencucian uang.

Public Communication: Kecepatan dan ketepatan klub dalam mengklarifikasi isu-isu krusial (seperti pemutusan kontrak atau perubahan jadwal) kepada publik.

Anti-Korupsi dan Fair Play

Sistem pemantauan pengaturan skor (match-fixing) dan transparansi proses rekrutmen wasit/ofisial.

Match Integrity: Keberhasilan klub dalam menjaga seluruh personel (pemain, pelatih, manajemen) dari keterlibatan praktik match-fixing atau perjudian sepak bola.

Financial Integrity: Transparansi dalam arus kas, termasuk pembayaran gaji tepat waktu dan penolakan terhadap sumber dana yang tidak jelas asal-usulnya.

Governance Transparency: Sejauh mana proses pengambilan keputusan di tingkat manajemen dilakukan secara kolektif dan terdokumentasi untuk menghindari dominasi individu yang rentan korupsi.

Regulatory Compliance: Tingkat kepatuhan klub terhadap Code of Ethics PSSI dan regulasi FIFA terkait transfer pemain serta hubungan dengan agen.

Anti-Diskriminasi dan Hak Asasi Manusia

Protokol penanganan rasisme, seksisme, dan diskriminasi di stadion.

Kebijakan keberagaman (Diversity & Inclusion) dalam struktur kepengurusan federasi.

Anti-Racism Protocol: Keberadaan sistem pelaporan dan tindakan tegas (seperti stadium ban) terhadap pelaku tindakan rasis, baik secara verbal di tribun maupun di media sosial.

Labor Rights & Welfare: Kepatuhan terhadap kontrak kerja, ketepatan waktu gaji, jaminan kesehatan, dan perlindungan terhadap eksploitasi pemain muda.

Inclusivity & Accessibility: Penyediaan fasilitas fisik bagi penonton disabilitas dan kebijakan inklusi bagi staf perempuan di posisi strategis.

Safeguarding: Kebijakan perlindungan terhadap kekerasan seksual dan perundungan (bullying) di lingkungan internal klub maupun akademi.

Peran Keterlibatan Fans & Keselamatan

Indikator keamanan penonton (mengacu pada standar FIFA pasca-tragedi) dan keterlibatan suporter dalam pengambilan keputusan strategis.

Stadium Safety & Infrastructure: Kelengkapan fasilitas keselamatan (jalur evakuasi, rambu darurat, dan ketersediaan petugas medis) serta pemisahan alur masuk/keluar yang efektif.

Digital Ticketing & Verification: Penggunaan sistem tiket digital yang terhubung dengan identitas resmi untuk mencegah tiket palsu dan mempermudah pelacakan jika terjadi insiden.

Conflict Resolution & Stewardship: Kemampuan klub dalam mengelola kelompok suporter melalui steward terlatih, mengurangi ketergantungan pada aparat keamanan bersenjata di area tribun.

Two-Way Communication: Sejauh mana klub mendengarkan aspirasi suporter dalam pengambilan keputusan non-teknis, menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang positif.

Mekanisme Perlindungan dan hak Anak

Sistem pelaporan dan perlindungan bagi pemain muda dari risiko kekerasan atau eksploitasi.

Vetting & Recruitment: Prosedur pengecekan latar belakang (background check) yang ketat bagi setiap staf, pelatih, hingga relawan yang bersentuhan langsung dengan anak-anak.

Reporting Mechanism: Adanya jalur komunikasi yang aman, rahasia, dan mudah diakses oleh anak-anak atau orang tua untuk melaporkan kecurigaan perilaku menyimpang.

Physical & Emotional Safety: Lingkungan latihan yang bebas dari kekerasan fisik, hukuman yang tidak manusiawi, dan tekanan emosional yang berlebihan.

Education & Awareness: Pelatihan berkelanjutan bagi pemain muda mengenai hak-hak mereka dan cara mengidentifikasi situasi yang tidak aman.

Kesehatan dan kesejahteraan

Promosi gaya hidup sehat melalui sepak bola dan pemantauan kesehatan mental pemain.

Kepatuhan atas Ketentuan

Kepatuhan terhadap regulasi nasional dan internasional terkait ketenagakerjaan dan standar keselamatan bangunan.

Contractual Fulfillment (Ketenagakerjaan): Ketaatan terhadap isi kontrak, terutama terkait pembayaran upah, jaminan sosial (BPJS Ketenagakerjaan/Kesehatan), dan pesangon sesuai UU Cipta Kerja atau regulasi FIFA.

Club Licensing (Kepatuhan Federasi): Keberhasilan dalam memenuhi kriteria legal untuk mendapatkan lisensi kompetisi (AFC/PSSI) yang mencakup bukti kepemilikan, akta pendirian, dan surat pernyataan bebas hutang.

Tax Compliance (Perpajakan): Ketaatan klub dalam melaporkan dan membayar PPh 21 (pemain/staf), PPh Badan, serta PPN terkait aktivitas komersial klub.

Intellectual Property & Commercial Law: Perlindungan terhadap aset non-fisik (merek) dan kepatuhan terhadap hukum persaingan usaha dalam kontrak sponsor.

Kabijakan Pengadaan berkelanjutan

Kewajiban federasi untuk hanya bekerja sama dengan vendor/sponsor yang memiliki sertifikasi lingkungan atau sosial (misalnya: pemasok jersey yang ramah lingkungan).

Environmental Criteria (Kriteria Lingkungan): Memilih pemasok yang memiliki jejak karbon rendah, menggunakan bahan baku daur ulang, atau memiliki sistem manajemen lingkungan yang tersertifikasi.

Socio-Economic Impact (Dampak Sosial-Ekonomi): Memberikan preferensi kepada vendor lokal dan UMKM untuk mendukung ekonomi kerakyatan serta mengurangi emisi transportasi.

Ethical Supply Chain (Rantai Pasok Etis): Memastikan seluruh vendor mematuhi hak asasi manusia, tidak mempekerjakan anak, dan memberikan lingkungan kerja yang aman bagi pekerjanya.

Resource Efficiency (Efisiensi Sumber Daya): Mengurangi pemborosan dalam proses pengadaan (misalnya pengadaan dalam jumlah besar untuk mengurangi kemasan atau beralih ke sistem digital).

Campaign

AThLETE RIGHT IS HUMAN RIGHTS

Our Blog

Latest Blog & Articles

OUR PArtnerS

Keberlanjutan Olahraga Untuk Masa Depan.

What Next?

Cek apakah klub kesayangan kamu memenuhi aturan yang kami buat!

Sustainable Sport League

Copyright © 2026. All rights reserved.