
PENCAPAIAN PER INDIKATOR
Lingkungan
Hak Asasi Manusia
Tata Kelola
Highlight
Profil
Gianyar, Akhir Februari 2015. Di bawah langit Pulau Dewata yang eksotis dan kental dengan nuansa spiritual, sebuah fajar baru menyingsing di panggung sepak bola nasional. Melalui sebuah langkah bisnis yang berani dan visioner, sebuah klub asal Samarinda bernama Putra Samarinda resmi diakuisisi, dipindahkan homebase-nya, dan bersalin rupa menjadi Bali United FC. Diinisiasi oleh pengusaha visioner Pieter Tanuri, kehadiran klub ini langsung menggebrak tatanan sepak bola Indonesia. Mengusung julukan Serdadu Tridatu—yang diambil dari tiga warna suci dalam filosofi masyarakat Bali—klub ini tidak butuh waktu lama untuk bertransformasi menjadi kekuatan baru yang modern, profesional, dan menjelma sebagai simbol kebanggaan baru bagi seluruh masyarakat Bali.
Meski usianya tergolong paling muda di antara para raksasa sepak bola tanah air, urusan prestasi Bali United tidak bisa dipandang sebelah mata. Sesuai dengan filosofinya yang cepat dan progresif, Serdadu Tridatu langsung menyabet status sebagai penguasa sepak bola modern Indonesia melalui torehan sejarah yang fantastis. Di bawah asuhan taktik jenius Stefano Cugurra Teco, Bali United sukses merengkuh gelar juara kasta tertinggi Liga 1 secara beruntun (back-to-back) pada musim 2019 dan musim 2021/2022. Konsistensi permainan yang disiplin, atraktif, dan dihuni skuad bermental pemenang membuat Bali United rutin menjadi wakil Indonesia di kompetisi antarklub Asia seperti AFC Cup dan kualifikasi AFC Champions League, membuktikan bahwa tim dari pulau wisata ini memiliki tradisi juara yang sangat kuat di era profesional modern.
Lompatan prestasi yang instan tersebut lahir dari tata kelola klub yang sangat mutakhir dan revolusioner di balik layar. Bali United dikelola secara modern di bawah payung entitas hukum resmi bernama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. Yang paling fenomenal, Bali United mengukir sejarah emas pada tahun 2019 sebagai klub sepak bola pertama di Asia Tenggara yang resmi melepas sahamnya ke publik dan melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BOLA. Di bawah kendali utama keluarga Tanuri, di mana Yabes Tanuri bertindak sebagai CEO, Bali United bertransformasi menjadi korporasi olahraga berskala internasional. Manajemen berhasil menyulap Stadion Kapten Iyan Dipta Gianyar menjadi stadion kelas dunia dengan fasilitas megah, mendirikan pusat latihan (training center) modern di tepi Pantai Purnama, hingga mengembangkan ekosistem bisnis menggurita mulai dari megastore, restoran, stasiun TV klub, hingga tim esports.
Kemapanan manajemen dan fasilitas mewah inilah yang membuat Bali United menjadi magnet utama bagi berkumpulnya para seniman lapangan hijau terbaik dan bintang papan atas. Jika berbicara tentang sosok ikonik di awal berdirinya klub, nama Fadil Sausu akan selalu dikenang sebagai kapten abadi dan jenderal lapangan tengah yang menjadi peletak fondasi permainan tim. Melangkah ke era kejayaan, ingatan kolektif publik sepak bola tanah air pasti tertuju pada ketajaman Ilija Spasojevic, striker naturalisasi haus gol yang menjadi mesin utama pendongkrak trofi juara liga. Tak kalah mentereng, nama-nama besar seperti gelandang enerjik Stefano Lilipaly, kiper tangguh Nadeo Argawinata, bek kokoh Willian Pacheco, hingga gelandang asing berkelas dunia sekelas Eber Bessa, telah mematri nama mereka sebagai jajaran bintang yang selalu tampil spartan demi lambang Tridatu di dada.
Namun, ruh utama yang meniupkan gairah dan membuat nafas Bali United terus menyala adalah para pendukung setianya yang kerap disebut sebagai Semeton Dewata. Jumlah mereka berkembang sangat masif, mencakup jutaan pasang mata dari seluruh kabupaten di Bali hingga komunitas pencinta Bali di luar pulau. Menariknya, dukungan luar biasa ini lahir dari sebuah kultur yang diturunkan secara organik dari generasi ke generasi melalui pendekatan budaya komunal Bali yang kental. Di tanah Dewata, pergi ke stadion telah bergeser menjadi ritual budaya baru yang diwariskan dari kakek ke ayah, lalu mengalir ke pembuluh darah anak dan cucu. Sejak usia dini, anak-anak Bali sudah akrab dengan warna merah, putih, dan hitam, diajak merayakan kemenangan dengan suka cita, serta diajarkan filosofi Menyama Braya yang berarti menganggap semua orang sebagai saudara.
Di dalam stadion, manifestasi dari kultur lintas generasi ini melahirkan magis tribun yang luar biasa indah dan sangat tertib. Tribun Stadion Kapten I Wayan Dipta selalu bergemuruh oleh faksi-faksi supporter militan seperti North Side Boys 12 (NSB12) di tribun utara yang mengadopsi gaya Ultras Eropa dengan nyanyian tanpa henti sepanjang sembilan puluh menit, serta faksi Brigaz Bali dan Semeton Dewata yang selalu kreatif menghadirkan koreografi megah, kibaran bendera raksasa, hingga ritual doa bersama sebelum laga dimulai. Gak peduli dinamika pasang surut prestasi, kesetiaan masyarakat Bali pada tim ini tetap mengakar kuat. Dengan sejarah modernisasi yang menginspirasi, deretan piala yang menghias lemari klub, status sebagai pelopor saham publik, serta basis supporter lintas generasi yang fanatik namun cinta damai, Bali United FC bukan sekadar sebuah klub sepak bola, mereka adalah lambang kehormatan, representasi budaya, dan kebanggaan abadi dari seluruh masyarakat Pulau Dewata.
