PSM MAKASSAR

PENCAPAIAN PER INDIKATOR

Climate & Greenhouse Gas (GHG) Emissions
32%
Circular Economy & Waste Management
46%
Water Sustainability
33%
Biodiversity
49%
Anti-Discrimination & Human Rights
55%
Safeguarding & Child Protection
53%
Health & Well-being
0%
Fan Engagement & Safety
49%
Transparency & Accountability
44%
Anti-Corruption & Fair Play
50%
Sustainable Procurement Policy
39%
Legal Compliance
54%


PROFIL

Makassar, Awal November 1915. Jauh sebelum republik ini memproklamasikan kemerdekaannya, sebuah benih sepak bola sudah tertanam kuat di tanah Daeng. Diinisiasi oleh tokoh-tokoh pergerakan lokal, lahirlah sebuah klub bernama Makassaarsche Voetbal Bond (MVB). Di tengah situasi kolonial yang serba membatasi, klub ini menjadi ruang bagi pemuda pribumi untuk menyalurkan bakat dan menunjukkan harga diri. Seiring berjalannya waktu dan setelah kemerdekaan diraih, nama tersebut bersalin rupa menjadi PSM Makassar. Tim yang kini akrab dengan julukan Juku Eja alias Pasukan Ramang ini bukan sekadar sebuah klub, melainkan monumen hidup sekaligus klub sepak bola tertua yang masih eksis dan merajai panggung tertinggi sepak bola Indonesia.


Darah juara sudah mengalir dalam nadi PSM Makassar sejak era amatir Perserikatan. Karakter permainan yang keras, cepat, spartan, dan pantang menyerah—atau yang populer dengan istilah Ewako—menjadi identitas yang ditakuti lawan. Di era jadul itu, PSM sukses membawa pulang trofi juara ke tanah Sulawesi pada tahun 1957, 1959, 1965, 1966, dan 1992. Ketika kompetisi memasuki era profesional Ligina, kedigdayaan mereka tidak pudar. Skuad bertabur bintang milik PSM sukses merengkuh gelar juara Liga Indonesia pada musim 1999/2000. Setelah sempat mengalami masa-masa sulit dan puasa gelar yang cukup panjang, mereka kembali menghentak sepak bola nasional dengan cara yang sangat manis: keluar sebagai juara Liga 1 musim 2022/2023 di bawah asuhan taktik modern yang disiplin, menegaskan status mereka sebagai salah satu penguasa abadi sepak bola tanah air.


Menghadapi tuntutan industri sepak bola modern abad ke-21, PSM Makassar melakukan perombakan besar di balik layar agar bisa mandiri tanpa sokongan dana pemerintah. Skuad Juku Eja kini bernaung di bawah entitas hukum resmi bernama PT Persaudaraan Sepakbola Makassar. Struktur kepemilikan klub ini dikendalikan oleh Bosowa Corporindo, sebuah raksasa bisnis nasional asal Sulawesi Selatan milik keluarga Aksa Mahmud. Di bawah kendali manajemen yang profesional, PSM berhasil menjaga stabilitas finansial dan operasionalnya di tengah berbagai dinamika kompetisi. Manajemen tidak hanya fokus pada belanja pemain instan, melainkan juga berkomitmen kuat mengembangkan akademi usia muda di Mamuju dan beberapa wilayah lain, demi memastikan bahwa rantai pasokan talenta lokal berkarakter petarung tidak akan pernah terputus.


Komitmen pembinaan dan nama besar PSM inilah yang selalu menjadi panggung lahirnya para seniman lapangan hijau legendaris. Jika menyebut kata legenda di Makassar, semua kepala pasti akan menunduk hormat pada nama Ramang. Striker legendaris era 50-an ini adalah ikon terbesar yang ketajamannya tidak hanya melegenda di dalam negeri, tetapi juga sempat membuat kiper-kiper kelas dunia di kancah internasional gemetar. Melompat ke era profesional, publik sepak bola nasional akan selalu mengingat sosok Syamsul Chaeruddin, gelandang pengangkut air yang bermain dengan separuh nyawa dan menjadi personifikasi hidup dari semangat Ewako. Di era modern dan saat menjuarai Liga 1 kemarin, tongkat estafet bintang diteruskan oleh Wiljan Pluim, playmaker jenius asal Belanda yang keanggunan permainannya menyihir siapa saja, berpadu dengan ketangguhan bek lokal seperti Yuran Fernandes dan talenta muda asli daerah seperti si kembar Sayuri yang dikenal memiliki kecepatan luar biasa.


Namun, detak jantung sesungguhnya yang membuat nafas PSM Makassar tetap menderu kencang selama lebih dari satu abad adalah para pendukung setianya, Suporter PSM. Basis massa mereka sangat masif, mencakup jutaan orang yang tersebar di seluruh pelosok Sulawesi Selatan hingga ke komunitas perantauan Bugis-Makassar di berbagai penjuru dunia. Dukungan ini lahir dari sebuah kultur yang diturunkan secara organik dari generasi ke generasi lewat garis darah. Di tanah Makassar, mencintai PSM adalah bentuk kesetiaan kultural yang mutlak. Cerita tentang ketangguhan Pasukan Ramang diwariskan layaknya sebuah pusaka dari kakek ke ayah, lalu meresap ke dalam dada anak dan cucu sejak mereka masih kecil. Anak-anak Makassar tumbuh dengan doktrin bahwa mendukung PSM adalah bagian dari menjaga kehormatan daerah. Filosofi hidup masyarakat setempat yang berani, teguh pendirian, dan pantang pulang sebelum tumbang terpancar utuh dalam cara mereka berdiri di belakang tim kesayangan.


Di dalam stadion, manifestasi dari kultur lintas generasi ini menjelma menjadi atmosfer yang luar biasa intimidatif bagi tim lawan. Berbagai kelompok suporter militan seperti Macz Man, Red Gank, Laskar Ayam Jantan, hingga faksi Curva Sud Makassar berkumpul menciptakan simfoni penyemangat yang tak kenal lelah. Meskipun sempat harus berpindah-pindah rumah spiritual dari Stadion Mattoanging yang bersejarah hingga ke Stadion Gelora B.J. Habibie di Parepare, lautan warna merah kebesaran selalu setia memadati tribun. Mereka berteriak, menabuh drum, dan menyanyikan yel-yel penyemangat sepanjang sembilan puluh menit penuh tanpa henti. Dengan statusnya sebagai klub tertua di nusantara, deretan trofi yang menghias lemari dari era ke era, manajemen korporasi yang mapan, serta basis suporter lintas generasi yang terkenal dengan militansi tanpa batasnya, PSM Makassar bukan sekadar sebuah klub sepak bola, mereka adalah lambang kehormatan, harga diri, dan kebanggaan abadi bagi seluruh masyarakat Sulawesi Selatan.